Advanced search in Research products
Research products
arrow_drop_down
Searching FieldsTerms
Any field
arrow_drop_down
includes
arrow_drop_down
Include:
The following results are related to Digital Humanities and Cultural Heritage. Are you interested to view more results? Visit OpenAIRE - Explore.
910 Research products, page 3 of 91

  • Digital Humanities and Cultural Heritage
  • Indonesian

10
arrow_drop_down
Relevance
arrow_drop_down
  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Teguh Teguh; Widiandari Widiandari;
    Publisher: Pusat Penerbitan ISI Surakarta

    Gamelan Sekaten merupakan salah satu jenis gamelan Pakurmatan, dimana mempunyai instrumen yang unik yaitu bonang yang ditabuh oleh 2-3 pengrawit, dimana lazimnya bonang lanang ditabuh oleh seorang pengrawit, sedangkan bonang wadon oleh 1-2 pengrawit. Selain itu permasalahan kreatifitas dalam motif tabuhan bonang menyebabkan stagnansi pada kualitas di dalam penyajian seni karawitan yang biasanya berdasarkan “ angon rasa ” menjadi “ angon ngelmu ”. Kolaborasi garap ricikan yang satu dengan ricikan lainnya akan menimbulkan harmoni dalam sebuah sajian gending, sehingga ketepatan pemilihan motif tabuhan bonang menjadi sangat penting, begitu pula sebaliknya tanpa alasan yang mendasar sajian sebuah gending menjadi hambar atau bahkan tidak berkualitas, cebleh , sangli , ora mungguh dan seterusnya. Penelitian ini mempergunakan kualitatif deskripsi dimana teknik pengumpulan data terbagi menjadi studi pustaka, observasi dan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa Teknik tabuhan mipil rangkep bonang sekaten isiannya relatif sedikit, hal ini ada pengaruh dari bentuk fisik dan penyajian sekaten yang membutuhkan tenaga ekstra. Ditambah pula bahwa penyajian sekaten menjelang suwuk selalu ada permainan tabuhan soran dengan irama tanggung laya seseg , oleh karenanya penabuh bonang harus bisa menghemat atau mengelola tenaga dengan baik. Selanjutnya pada teknik tabuhan gembyang hanya satu nada alasannya adalah bahwa bonang sekaten hanya terdiri dari tujuh nada dengan wilayah oktaf tinggi atau kecil. Konteks adopsi yang dimaksud adalah tabuhan bonang barung yang mengambil dari tabuhan bonang sekaten, sedangkan adaptasi adalah meniru motif tabuhan yang ada pada tabuhan bonang sekaten yang kemudian diaplikasikan ke dalam tabuhan bonang barung meskipun selehnya berbeda.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Imanullah Hesti Nur Amala; Abdul Gafur;
    Publisher: Andalas University

    Culture is a custom made from long ago. The fundamental thing of culture is the presence of predecessors or ancestral information either written or unwritten. The local culture of java still in jepara district is a ‘nyumpet’ tradition. The study aims to describe how to preserve local culture in Indonesian tradition especially the ‘nyumpet’ tradition in jepara district securitate so society so that the younger generation will not forget the culture that has been built up long ago. This article was prepared using a library study method where the data obtained came from various books, journals, theses and several libraries from related sources. The scope of this study is expected to shape the fine young generation, responsible, and active generation of young people in local cultures. The ‘nyumpet’ tradition is a ritual performed by some people jepara kejawen. The nyumpet ritual is performed when there is a wedding ceremony or circumcision. 

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Luqman Wahyudi; Sri Hesti Heriwati;
    Publisher: Institut Seni Indonesia Surakarta

    Comic strips are a top-rated entertainment product. Supported by growing information technology, comic strips today are very accessible to almost all people. In addition to serving as a medium of entertainment, comic strips are often used as a means of opinion and convey criticism creatively from the comic artist. One of the comic strips that are vocal in expressing social criticism is Gump n Hell comic strip by Errik Irwan Wibowo. This comic strip depicts political events that occur, then publishes the comics through social media. This research is qualitative descriptive research using Charles Sanders Peirce's semiotic theory to determine the meaning of social criticism in the comic strip Gump n Hell. The researcher took three Gump n Hell comic strip samples relating to the moment of the 2019 General Election to analyzed the meaning. From the study results, there was an implicit meaning in the comic strip, namely criticizing and satirizing specific political figures related to the phenomenon. Criticism in comics is represented subtly or indirectly through pop culture icons that become representations or parodies of exact political figures and wrapped in narratives according to political phenomena.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Anam Miftakhul Huda; Atwar Bajari; Asep Saeful Muhtadi; Dadang Rahmat;
    Publisher: Universitas Islam Bandung

    Larung sesaji kelud is a customary ritual that has a crater of Mount Kelud. It is a traditional Javanese cultural ceremony. This ceremony is held every month Suro (Javanese calendar). This ritual is held in the Sugihwaras Village, Ngancar District, Kediri. This research uses qualitative method. Qualitative method is a research procedure that produces descriptive data in the form of written or oral data of the people observed. The data in this research are the result of interview with informant and act of perpetrator of ceremony. Larung sesaji means to reject the oath of Lembu Suro vaunted by Goddess Kilisuci. “Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung " besides this sacred ritual as a form of gratitude to the god as a ruler, and also to reverence to the ruler of Mount Kelud. Larung sesaji Kelud as cultural preservation has spiritual values, as well as tourism asset so it can improve the economy of the surrounding community.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Ahmad, T. (Taufik);
    Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan
    Country: Indonesia

    Pergeseran politik dari rezim Orde Baru ke era reformasi pada dasarnya telah memberi ruang gerak lebih luas kepada eks tapol untuk mereproduksi memori trauma dalam bentuk formal. Jika era Order Baru produksi memori eks tapol hanya dalam lingkunga keluarga, maka di era reformasi mereka mentransmisikan memori ke post-memori dengan cara lebih terbuka. Artikel ini mencoba untuk melihat produksi dan reproduksi memori dengan mengambil kasus dua keluarga eks tahanan politik (Tapol) PKI di Sulawesi Selatan. Dengan menggunakan metodologi sejarah dan menekankan pada proses, studi ini membuktikan bahwa produksi memori tapol diekspresikan melalui catatan-catatan harian, surat-surat, dan sketsa. Memori tersebut kemudian ditransmisikan ke generasi post-memori melalui cerita-cerita keluarga, gambar dan prilaku seharihari. Selanjutnya, generasi post-memori mereproduksi dan menerjemahkan ulang warisan memori tersebut di tengah Perubahan-Perubahan sosial politik. Konteks ini mengindikasikan bahwa pada masa Orde Baru, memori eks tapol hanya menjadi bagian dari domestic memory, kemudian berubah menjadi public memory yang diartikulasikan secara terbuka di era reformasi. Akan tetapi, terdapat cara-cara yang berbeda setiap tapol dalam memproduksi dan mentransmisikan memorinya. Latar belakang eks tapol; Pendidikan, kehidupan keluarga, dan aktivitas di masa lalu, memberi pengaruh signifikan terhadap pilihan-pilihan dalam menentukan model transmisi memori.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    HERA KUSTILAWATI;
    Country: Indonesia

    Berdasarkan observasi yang dilakukan pada siswa kelas V SDN Babatan 1 Surabaya, ditemukan permasalahan dalam pembelajaran seni rupa khususnya materi menggambar bentuk. Siswa mengalami kesulitan dalam menggambar bentuk serta penggunaan teknik yang tidak sesuai sehingga hasil belajar siswa menjadi dibawah standar ketuntatasan minimal. Berkaitan dengan masalah tersebut maka penelitian ini memperkenalkan teknik perspektif untuk meningkatkan hasil belajar menggambar bentuk geometris. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan pengamatan, dan tes. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kuantitatif. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Babatan 1 Surabaya yang berjumlah 27 siswa. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan tes dan observasi. Aktivitas guru meningkat dari siklus I 74,1% dan siklus II 87,4%. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran pada siklus I 73,3% dan siklus II 87,7%. Data hasil belajar siswa siklus I 66,6%, dan siklus II 88,8%. Dari hasil data di atas dapat disimpulkan bahwa pengenalan teknik perspektif dapat meningkatkan hasil belajar menggambar bentuk pada siswa kelas V pada mata pelajaran seni rupa di SDN Babatan 1 Surabaya. Kata kunci: Menggambar bentuk, Teknik Perspektif, Seni Rupa. Absrtact: Based on observations made at the fifth grade students of SDN Babatan 1 Surabaya, found problems in learning art especially drawing material form. Students having difficulty in drawing form and the use of inappropriate techniques so that student learning outcomes to be below the standard minimum completeness. In connection with the issue, this study introduces perspective techniques to improve learning outcomes to draw geometric shapes. This study uses the design of classroom action research (CAR), which is conducted in two cycles. Each cycle consists of four stages: planning, implementation, observation, and reflection. Data collection techniques used were the observations, and tests. Collected data were analyzed using quantitative analysis techniques. This study uses descriptive quantitative research design. Subjects in this study were fifth grade students of SDN Swipe 1 Surabaya consisting of 27 students. Techniques of data collection obtained by using tests and observation. Teacher activity increased 74.1% from the first cycle and second cycle of 87.4%. Activities of students during the learning process in the first cycle and second cycle 73.3% 87.7%. Student learning outcomes data first cycle 66.6%, and 88.8% the second cycle. From the results of the above data it can be concluded that the introduction of techniques to improve learning outcomes perspective drawing shapes in class V at art subjects in SDN Babatan 1 Surabaya.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    syah, Alam;
    Country: Indonesia

    History as the past event, its tracking can be traced through the history trace. History trace is the fact and sign of history record which requires archives to disclosure. Archives as the history document is a silent witness which give evidence toward the success, failure, growth, and wealth of a nation. Archives, as past event record and a historical reconstruction, have an important role in building the nation character. The good nation character that contained in archives will strengthen the spirit of national anthem. Archive as the historical reconstruction can teach us a noble value, goodness, nasionalism, and teach us to follow the struggle value of the national heroes to free the nation from ivanders suppression. When archives that full of patriotism and nasionalism values are served to people, it will grow the collective consciousness of Indonesia that has ever had a strong character in struggling to achieve its independence. Therefore, correlation between archive and history in forming the national character relates to archives role as the historical values ( values of historical). Archive is an ambassador of its era which can give informations for the next era's interest. Thus, history is actually not inanimatte object. It is a building “live” that has many wise messages to deliver.

  • Other research product . 2017
    Open Access Indonesian
    Authors: 
    Rouw, R. F. (Randy);
    Publisher: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray
    Country: Indonesia

    Tujuan penulisan ini adalah membuktikan bahwa kepercayaan Rahab terwujud melalui setiap tindakan Rahab dalam Yosua 2:1-24. Penulis surat Ibrani dan Yakobus mengungkapkan bahwa setiap tindakan Rahab menunjukkan kepercayaannya kepada Allah, namun dalam narasi Yosua 2 tidak ada keterangan yang jelas apakah benar setiap tindakan Rahab mewujudkan kepercayaannya kepada Allah bangsa Israel. Sebagai kesimpulan, Rahab memang memiliki latar belakang non-Israel, namun hal itu tidak menutup anugerah keselamatan untuk dinikmatinya. Rahab membuktikan kesungguhannya untuk percaya dan berserah kepada Allah bangsa Israel melalui setiap tindakannya demi menolong umat Allah. Dalam meneliti narasi Yosua 2:1-24, penulis menggunakan prinsip-prinsip umum dalam hermeneutik. Selain itu, penulis juga meneliti narasi Yosua 2 dengan menggunakan metode penafsiran narasi terkait genre dari Yosua 2:1-24 adalah narasi. The purpose of this writing is to prove that Rahab's belief is manifested through every act of Rahab in Joshua 2: 1-24. The writers of Hebrews and James reveal that every act of Rahab shows her belief in God, but in Joshua's narrative there is no clear explanation of whether it is true that every act of Rahab embodies her belief in the God of Israel. Rahab does have a non-Israelite background, but that fact does not exclude her from the enjoyment of the grace of salvation. Rahab proves her sincerity to believe and surrender to the God of Israel through her every action to help the people of God.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Suanmonta, T. (Tawanchai);
    Publisher: American Linguist Association
    Country: Indonesia

    This academic article aims to 1) study the history of the national marching band contest; 2) the development of the national marching band contest. The results showed that National Marching Band Contest has been held from 1982 until the present. The contest in the early age from 1982 to 1993 is divided into three categories: Category A, Men, Category B, Men and Women, Category C, Women. The winning marching band will receive a royal trophy. In addition, the marching band has to play three songs at the Supachalasai Stadium: royal song (Rama IX), Thai Thao song or Prelude song, and a selected song according to preference, continuing with the march music: sports ground music, and Thai Military Bank (TMB) song which is a compulsory one. The marching band contest has been developed because the contest management activity is an important factor in the development of standards for marching bands to grow rapidly at the national level from an early age to the present.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Sahajuddin, S. (Sahajuddin);
    Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan
    Country: Indonesia

    Kajian ini bertujuan mengungkapkan integrasi awal terbentuknya kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa terbentuknya kerajaan-kerajaan lokal yang ada di Sulawesi Selatan terjadi pada abad XIII. Kerajaan-kerajaan tersebut telah ada sebelum kelompok persekutuan kesukuan yang disebut akkarungeng atau karaengang. Kerajaan yang terbentuk pada abad XIII adalah kerajaan yang sudah terorganisir dari segi sistem pemerintahannya. Proses awal terbentuknya kerajaan-kerajaan tersebut berawal dari adanya konflik-konflik internal kerajaan yang berhasil dipersatukan oleh To Manurung. Keberadaan To Manurung di setiap kerajaan berbeda-beda, ada yang menganggapnya sebagai mitos atau dongeng, ada pula yang menganggapnya sebagai peristiwa sejarah. Terlepas dari itu, harus diakui bahwa mitos tentang To Manurung di Sulawesi Selatan merupakan salah satu faktor yang ikut menguatkan nilai kebudayaan Bugis- Makassar atau masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.