Advanced search in Research products
Research products
arrow_drop_down
Searching FieldsTerms
Any field
arrow_drop_down
includes
arrow_drop_down
Include:
The following results are related to Digital Humanities and Cultural Heritage. Are you interested to view more results? Visit OpenAIRE - Explore.
207 Research products, page 1 of 21

  • Digital Humanities and Cultural Heritage
  • 2018-2022
  • ID
  • Neliti
  • Digital Humanities and Cultural Heritage

10
arrow_drop_down
Relevance
arrow_drop_down
  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Faizullayevich, A. S. (Abdullaev); Bobokulovna, S. S. (Shodieva);
    Publisher: Research Parks Publishing
    Country: Indonesia

    The author of the article in the framework of the direction of education "Fine Arts" considers the tasks of training teachers of the fine arts in modern conditions. At the present stage of development of the education system of the Republic of Uzbekistan and the National Program for Personnel Training, taking into account the realities and requirements of society, the solution of the problems of high-quality training of teachers of higher and secondary schools acquires great, truly state significance

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Badruzaman, B. (Badruzaman); Musofa, A. (Ade);
    Publisher: Raden Intan State Islamic University
    Country: Indonesia

    This research focuses on Hasan Hanafi's thought study of "Epistemological Reconstruction of the Science of Jurisprudence Based on Historical Sciences". From the results of the study found several findings; 1). Hasan Hanafi is a figure who is very concerned about efforts to revive the spirit and spirit (revitalization) of Ushul Fiqh Science by using a historical approach. According to him the dimensions of history and humanity are important factors in order to approach the conceptions and methodology of the Ummah of Fiqh. Actually the historical and human dimensions are found in the standard methodology of the Ummah Fiqh, but this historical dimension has long been "extinct" and detached from the Ushul Fiqh when the development process of Science took place and manifested itself in the process of developing this knowledge. So that in fact according to Hasan Hanafi, the historical dimension is essentially manifested in all elements of Usul Fiqh, namely in ill adillah syar'iyah, thuruq al istinbat and al ahkam al syar'iiyah. This historical dimension is represented by Hasan Hanafi with both keywords, namely "history" and "human"; 2). Hasan Hanafi is a person who cares about the existence of the Science of Ushul Fiqh, in order that he says the importance of efforts to revitalize the Ushul Fiqh methodology. Revitalization in Hasan Hanafi's thinking is an attempt to renew and adjust the methodology of the Ummah of Fiqh based on the conditions of social settings and the realities of humanity and the developing sciences, but this effort starts from tradition and the treasure of the Ushul Fiqh methodology built by earlier scholars. With such efforts, it is hoped that the renewal of the methodology of the Uthul Fiqh on the one hand can solve contemporary legal problems that are increasingly complicated, but on the other hand are not uprooted from the roots and genealogy of the Ushul Fiqh methodology; 3). The thought of the Ushul Fiqh Hasan Hanafi is very relevant to the efforts to reactualize Islamic law. This is because there is a deep "awkwardness" in the thought of Usul Fiqh so that in the actual reality the Science of Usul Fiqh has been frozen. The significance of the thought of Ushul Fiqh Hasan Hanafi lies in the effort to revive the vital spirit and spirit of this Science by using a historical approach. That is, that the human and historical dimensions are one thing that must be involved in the legal process; 4). The historical thinking of the Ustadh Fiqh Hasan Hanafi which is covered in the human dimension and history actually has roots in Hasan Hanafi's thoughts and projects about al Turas wa al Tajdid (Tradition and Renewal). Because of the loss of the human dimension and history in the tradition and the treasures of Muslim thought are the main problems which are the cause of the lack of progressivity in the traditions and actions of Muslims.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Seniwati, S. (Seniwati); Lestari, T. D. (Tuti);
    Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan
    Country: Indonesia

    Kelahiran Aisyiyah sebagai organisasi wanita muslim merupakan suatu bentuk pembaruan Islam dalam mengubah paradigma wanita yang hanya mengurusi rumah tangga saja. Pandangan Islam berkemajuan yang diperkenalkan oleh para wanita Aisyiyah telah membuat Perubahan pandangan tentang wanita. Sejak awal pendiriannya, para wanita telah didorong untuk aktif keluar dan berdakwah sebagaimana laki-laki. Perubahan pandangan itu mulai diamalkan untuk memberikan hak, kewajiban, dan peran yang sama bagi kaum wanita. Adapun penelitian ini menggunakan teknik analisa kualitatif, yaitu analisa yang didasarkan pada hubungan sebab-akibat dari fenomena historis pada cakupan waktu dan tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aisyiyah telah membuka cakrawala pandangan baru yang lebih luas bagi para wanita untuk dapat berperan di dalam masyarakat dan menyingkirkan sekat-sekat tradisional yang menghambat wanita untuk maju. Selaku organisasi massa, aspek gerak Aisyiyah adalah bidang pendidikan, keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan kewanitaan. Melalui keempat aspek itulah Aisyiyah menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya di dalam masyarakat serta senantiasa tanggap kepada tuntutan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. Kiprahnya yang berskala nasional sebagai salah satu pendiri dan peserta Kongres Wanita Indonesia Pertama di Ndalem Jayadipuran pada tanggal 28 Desember 1928 menjadi bukti kepekaannya yang tinggi terhadap besarnya peran wanita di dalam masyarakat.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Amir, M. (Muhammad);
    Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan
    Country: Indonesia

    Kajian ini mengungkap dan menjelaskan perlawanan Kerajaan Sawitto terhadap pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905-1906. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah, yang menjelaskan suatu persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Prosedurnya terdiri atas heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dalam bentuk kisah. Hasil kajian menunjukkan bahwa perlawanan Kerajaan Sawitto terhadap pemerintah Hindia Belanda, bukan hanya dilatari oleh kepentingan ekonomi yang berkaitan kebijakan pelabuhan wajib pajak, melainkan juga kepentingan politik yang berkaitan dengan campur tangan pemerintah Belanda terhadap urusan dalam negeri Kerajaan Sawitto, bahkan ingin menguasai Sawitto secara langsung. Hal tersebut ditandai dengan diajukannya suatu tuntutan terhadap Kerajaan Sawitto agar tunduk, taat, dan patuh sepenuhnya kepada pemerintah Belanda dengan menandatangani pernyataan pendek (korte verklaring). Karena menolak tuntutan itu, pemerintah Belanda memutuskan untuk melancarkan serangan militer terhadap Kerajaan Sawitto, namun serangan tersebut mendapat perlawanan dari laskar Sawitto di bawah pimpinan La Sinrang. Pada akhirnya, pasukan Belanda berhasil mengalahkan laskar Sawitto.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Ahmad, T. (Taufik);
    Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan
    Country: Indonesia

    Pergeseran politik dari rezim Orde Baru ke era reformasi pada dasarnya telah memberi ruang gerak lebih luas kepada eks tapol untuk mereproduksi memori trauma dalam bentuk formal. Jika era Order Baru produksi memori eks tapol hanya dalam lingkunga keluarga, maka di era reformasi mereka mentransmisikan memori ke post-memori dengan cara lebih terbuka. Artikel ini mencoba untuk melihat produksi dan reproduksi memori dengan mengambil kasus dua keluarga eks tahanan politik (Tapol) PKI di Sulawesi Selatan. Dengan menggunakan metodologi sejarah dan menekankan pada proses, studi ini membuktikan bahwa produksi memori tapol diekspresikan melalui catatan-catatan harian, surat-surat, dan sketsa. Memori tersebut kemudian ditransmisikan ke generasi post-memori melalui cerita-cerita keluarga, gambar dan prilaku seharihari. Selanjutnya, generasi post-memori mereproduksi dan menerjemahkan ulang warisan memori tersebut di tengah Perubahan-Perubahan sosial politik. Konteks ini mengindikasikan bahwa pada masa Orde Baru, memori eks tapol hanya menjadi bagian dari domestic memory, kemudian berubah menjadi public memory yang diartikulasikan secara terbuka di era reformasi. Akan tetapi, terdapat cara-cara yang berbeda setiap tapol dalam memproduksi dan mentransmisikan memorinya. Latar belakang eks tapol; Pendidikan, kehidupan keluarga, dan aktivitas di masa lalu, memberi pengaruh signifikan terhadap pilihan-pilihan dalam menentukan model transmisi memori.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Suanmonta, T. (Tawanchai);
    Publisher: American Linguist Association
    Country: Indonesia

    This academic article aims to 1) study the history of the national marching band contest; 2) the development of the national marching band contest. The results showed that National Marching Band Contest has been held from 1982 until the present. The contest in the early age from 1982 to 1993 is divided into three categories: Category A, Men, Category B, Men and Women, Category C, Women. The winning marching band will receive a royal trophy. In addition, the marching band has to play three songs at the Supachalasai Stadium: royal song (Rama IX), Thai Thao song or Prelude song, and a selected song according to preference, continuing with the march music: sports ground music, and Thai Military Bank (TMB) song which is a compulsory one. The marching band contest has been developed because the contest management activity is an important factor in the development of standards for marching bands to grow rapidly at the national level from an early age to the present.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Sahajuddin, S. (Sahajuddin);
    Publisher: Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan
    Country: Indonesia

    Kajian ini bertujuan mengungkapkan integrasi awal terbentuknya kerajaan-kerajaan lokal di Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang menjelaskan persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa terbentuknya kerajaan-kerajaan lokal yang ada di Sulawesi Selatan terjadi pada abad XIII. Kerajaan-kerajaan tersebut telah ada sebelum kelompok persekutuan kesukuan yang disebut akkarungeng atau karaengang. Kerajaan yang terbentuk pada abad XIII adalah kerajaan yang sudah terorganisir dari segi sistem pemerintahannya. Proses awal terbentuknya kerajaan-kerajaan tersebut berawal dari adanya konflik-konflik internal kerajaan yang berhasil dipersatukan oleh To Manurung. Keberadaan To Manurung di setiap kerajaan berbeda-beda, ada yang menganggapnya sebagai mitos atau dongeng, ada pula yang menganggapnya sebagai peristiwa sejarah. Terlepas dari itu, harus diakui bahwa mitos tentang To Manurung di Sulawesi Selatan merupakan salah satu faktor yang ikut menguatkan nilai kebudayaan Bugis- Makassar atau masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.

  • Other research product . 2022
    Open Access Indonesian
    Authors: 
    Bahtiyarovna, S. S. (Samanova);
    Publisher: Research Parks Publishing
    Country: Indonesia

    The article deals with the analysis of English toponymic phraseological units in the context of their reflection of the picture of the world of the English-speaking society. Its relevance is due to the need to study the cultural factor in the language in the framework of linguistic research. However, toponymic phraseological units are extremely rarely studied, despite the fact that it is the toponym, which is part of the phraseological turnover, that is the linguistic sign that transmits information about the history, traditions, values of the culture of the people to future generations.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Odiljonovich, M. A. (Mahmudov);
    Publisher: Research Parks Publishing
    Country: Indonesia

    The article provides information about the events of the historical past, works dedicated to historical figures living in the recent or distant past, portrait compositions, works of Uzbek portrait painters. You can find information about some of the works from the historical past in world literature.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Luthfillah, M. D. (Muhammad); Khalil, M. I. (Muhammad);
    Publisher: Sunan Kalijaga State Islamic University
    Country: Indonesia

    Homophobic bias has been existing in tafsir literature, ranging from its very early works to the most recent ones. Among the aspects in which such a bias appears is that relating to the history of homosexuality. Al-A'rāf ([7]: 80) and al-‘Ankabūt ([29]: 28) are the only verses that talk about the aspect. Rather than following the mainstream tafsir denying the historicity of homosexuality, this article elaborates al-Rāzī's alternative interpretation on the two verses and comes up with an argument that homosexuality might historically exist even before the lifetime of Lot and his people. Emphasizing on linguistic and literary analysis on the words sabaqa, bi, and fahisya, it finds strong foundations on which the argument is relying. Further, the article finds that it is the sexual politics that brings about the homophobic bias into Qur'an tafsir. The very kind of politics expels homosexuality from the so- called ‘normal' life.